8 Mei 2010

KONSEP-KONSEP INCOME DALAM PELAPORAN INFORMASI KEUANGAN


1. PENGERTIAN INCOME
    Yang dimaksud pertama kali konsep laba sebenarnya adalah para ekonomi, kemudian para profesi akuntan mengikutinya. Adam Smith menjelaskan bahwa laba sebagai jumlah yang dapat dikomsumsi tanpa menggerogoti modal atau kenaikan dalam kekayaan. Ekonomi Inggris yang juga pemenang nobel Sir John Hicks memperluas hal ini dengan mengatakan bahwa laba adalah jumlah yang dapat dikonsumsi seseorang selama periode waktu tertentu dan sama sejahteranya pada akhir periode.
    Dengan perkataan lain, laba menurut Smith dan Hicks adalah surplus sesudah pemeliharaan kesejahteraan, tetapi sebelum dikonsumsi. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut laba komperhensif. Laba komperhensif dimaknai sebagai kenaikan asset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik.

2. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN
    Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak manajemen suatu perusahaan merupakan hasil akhir dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi yang dilakukan perusahaan. Laporan keuangan dibuat untuk mempertanggungjawabkan kegiatan peusahaan terhadap pemilik dan memberi informasi mengenai posisi keuangan yang telah dicapai perusahaan. Laporan keuangan adalah suatu laporan tertulis yang merupakan bentuk pandangan secara wajar mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertangggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI, 2002).

Melalui laporan keuangan itu, secara periodik dilaporkan informasi penting mengenai suatu perusahaan yang berupa :
a. Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi, kewajiban dan modal perusahaan.
b. Informasi mengenai perubahan-perubahan dalam sumber-sumber ekonomi netto atau     kekayaan bersih (modal = Aktiva dikurangi kewajiban), yang timbul dari aktivitas usaha perusahaan dalam rangka memperoleh laba.
c. Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai dan membuat estimasi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.
e. Informasi penting lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan, seperti kebijaksanaan akutansi yang dianut oleh perusahaan.
Tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2002). mengklasifikasikan tujuan laporan keuangan sebagai berikut (Riahi dan Belkaoui, 2000 :126) :
a. Tujuan umum, yaitu menyajikan laporan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima umum.
b. Tujuan khusus, yaitu memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban serta informasi lainnya yang relevan.
c. Tujuan kualitatif, sebagai berikut :
1) Relevance : Memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan dalam pengambilan keputusan.
2) Understanability : Informasi yang disajikan bukan saja inormasi yang penting tetapi mudah untuk dimengerti oleh pemakainya.
3) Variability : Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain.
4) Timeliness : Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
5) Comparability : Informasi akuntansi harus dapat dibandingkan, artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama untuk semua perusahaan.
6) Completeness : Informasi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan layak bagi pemakai
Pemakai Laporan Keuangan
Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang, investor potensial, karayawan, pemberi pinjaman (kreditor), pemasok (supplier), pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya dan masyarakat. Mereka menggunakan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Menurut (Harahap : 2002 :166) dalam Sandy Teguh Ariansyah (2006 : 12) pemakai laporan keuangan terdiri dari :

a. Pemakai langsung :
1) Pemilik Perusahaan
2) Kreditur
3) Pemasok
4) Manajemen
5) Fiskus (pajak)
6) Pegawai / Karyawan Perusahaan
7) Langganan
b. Pemakai tak langsung :
1) Konsultan
2) Para Pesaing
3) Masyarakat Umum

3. KONSEP-KONSEP INCOME
    3.1 Konsep Laba dalam Semantik
        Konsep laba dalam semantic berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada symbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat (usefull) dan bermakna (meaningfull) sebagai informasi.
Makna semantic laba yang dikembangkan diatas akhirnya harus dapat dijabarkan dalam tataran sintaktik. Ini berarti konsep laba jarus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang mantap dan objektif sehingga anggka laba dapat diukur dan disajikan dalam statement keungan. Salah satu bentuk penjabaran makna laba secara sintaktik adalah mendefinisi laba sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya. Tentang pendapatan, masalah teoritis pendapatan dan biaya adalah definisi dan pengukuran dalam arti luas. Definisi meupakan masalah pada tataran semantik. Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengakuan dan prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapkan (disclosure) merupkan masalah pada tataran sintaktik. Bila laba didefinisi sebagai pendapatan dikurangi biaya, masalahnya adalah kapajn laba timbul sehingga harus diukur dan diakui. Parallel dengan masalah pengukuran pendapatan, terdapat dua criteria atau pendekatan dalam pengukuran laba yaitu pendekatan transaksi (transaction approach) dan pendekatan kegiatan (activities approach).
 Pada tahapan ini, teori ini berusaha menjawab pertanyaan apakah yang harus dipresentasi oleh laba. Seperti teori tentang asset, realitas atau kegiatan entitas yang harus dipresentasi oleh angka laba. Makna yang terkandung dalam laba akhirnya harus diinterprestssi oleh pemakai. Pemaknaan laba secara semantic akhirnya akan menentukan laba secara sintatik yaiitu pengukuran dan penyajiannya. Untuk memberikan makna interpretative kepada accounting income, para kuntan sering meminjam 2 konsep ekonomi sebagai titik tolak yaitu konsep “better-offness” dan “maximation of profit” (dalam keadaan tertentu seperti struktur pasar,demand terhadap barang yang bersangkutan dan input cost). “Better-offness” merupakan bentuk lain daripada konsep profit maximation atau pengukuran efisiensi. Akan tetapi , dengan konsep laba ini sebagai sasaran, bagaimana pengukuran laba masa lalu dapat memberikan dasar untik menentukan efisiensi sebuah perusahaan. Efisiensi adalah suatu istilah yang relative dan hanya mempunyai arti bila dibandingkan dengan yang ideal atau beberapa dasar yang lain.
    3.2 Konsep Laba Dalam Sintaksis
        Meskipun akuntasi mendefinisikan pada interprestasi dunia nyata atas laba akuntasi atau dampak perilakunya (baik kemampuan prediktifnya ataupun relevansinya secara umum dalam proses pembuatan keputusan ), mereka umumnya mendasarkan prinsip dan ukuran pada premis yang mungkin tidak berkaitan dengan fenomena dunia nyata atau pengaruh perilaku. Sebagai contoh, sekelompok Studi tentang Tujuan Laporan Keuangan mengatakan bahwa “ penghasilan didasarkan pada ketentuan  dan aturan yang harus logis dan secara internal konsisten, sekalipun itu tidak serasi dengan pandangan para ekonom atas laba “. Ketentuan dan aturan itu dibuat logis dan konsisten yang mendasarkan pada premis dan konsep yang telah dikembangkan dari praktik yang ada. Akan tetapi konsep-konsep tersebut seperti realisasi, pandangan, dasar akrual, dan alokasi biaya dapat didefinisikan hanya dalam pengertian aturan yang tepat, karena hal itu tidak sepadan dalam dunia nyata.
    Akuntan telah menggunakan istilah ini, sehingga mereka cenderung menerima hal itu sebagai mempunyai interprestasi dalam dunia nyata. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa hal itu tidak mempunyai signifikansi diluar peranan terbatsnya dalam logika struktur akuntasi. Tidak adanya signifikansi merupakan satu alasan mengapa banyak mahasiswa mengalami kesulitan. Operating income (Laba Operasi) menunjukan jumlah yang tersisa dari seles setelah dikurangi dari cost of goods sold (Harga Pokok Penjualan), Depreciation (Penyusutan), biaya penjualan dari tahun ke tahun.

    3.3 Konsep Laba Dalam Pragmatis
Tataran pragmatis dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana diarah. Teori akuntasi pragmatis memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi akuntasi. Informasi diharapkan mempunyai pengaruh kalu informasi tersebut benar-benar digunakan oleh para pemakai kerena menurut persepsi pemakai informasi tersebut mempunyai manfaat, kualitas atau nilai informasi.
    Bila dikaitkan dengan laba, tataran ini membahas apakan informasi laba bermanfaat atau apakah informsi laba nyatanya digunakan. Kalau memang digunakan, unuk kepentingan apa inormasi laba digunakan sehingga angka laba benar-benar harus disediakan. Menanyakan langsung kepada pemakai apakah mereka menggunakan angka laba akuntasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kebermanfaatan laba. Cara lain adalah dengan mengenali bagaimana informasi laba nyatanya digunakan dan dengan mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman laba akuntasi.

4. FORECASTING INCOME
    Forecasting adalah meramal atau memperkirakan apa yang akan terjadi dimasa datang berdasar variabel atau kemungkinan yang ada. Potensi dan kelemahan perusahaan diperhatikan dengan seksama. Forecasting dilakukan sebelum perencanaan dibuat. Hasil dari forecasting ini menjadi dasar dalam pembuatan rencana dan diproyeksikan untuk menjadi bahan penjabaran rencana.
Menurut Study Group on the Objective Financial Statement menyatakan bahwa:“ suatu tujuan dari ikhtisar keuangan adalah memberikan informasi yang factual dan dapat di interprestasikan mengenai transaksi dan kejaidian lainnya yang penting untuk prediksi, pembandingan  dan penilaian mengenai kemauan perusahaan untuk menghasilkan laba”.
    Pernyataan ini juga menekankan pentingnya pengukuran laba berkala untuk membantu pembuat keputusan dalam meramalkan keberhasilan dimasa yang akan datang. Dasar untuk pembuatan pernyataan ini adalah adanya hubungan yang tertulis antara income yang dilaporkan  dengan arus kas (termasuk deviden ) bagi pemilik.

5. KONSEP PERTAMBAHAN NILAI INCOME (VALUE ADDED)
    Dalam pengertian ekonomi, nilai tambah adalah hasil pasar dari keluaran suatu perusahaan dikurangi harga barang dan jasa yang diperoleh melalui transfer dari perusahaan lain. Jadi semua karyawan, pemilik, kreditor dan pemerintah (melalui pajak) adalah penerima dari laba perusahaan.
    Konsep nilai tambah menjadi berarti apabila diterapkan pada perusahaan yang sangant besar yang mempengaruhi hidup ribuan orang dan mempunyai kepentingan sosial dab ekonomi du luar kepentingan sempit dari pemilik dan pemegang saham. Laba nilai tambah mencakup upah, sewa, bunga, pajak, deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham dan penghasilan yang tidak dibagikan dalam konsep ini. Itu tidak harus terhutang kepada pemilik saja, tetapi juga kepada semua penerima atau pengklaim lain dari nilai tambah perusahaan. Hanya dalam kasus liquiditas pemegang saham biasa mempunyai klaim tersisa. Dalam jangka panjang, penahan penghasilan memberikan pertumbuhanpada modal perusahaan yang melalui produktivitas yang meningkat dapat memberikan arus kenaikan laba pada semua penerima. Jika perusahaan itu diasumsikan mempunyai umur yang berkesinambungan atau tak terbatas, pemegang saham mungkin tak pernah menerima manfaat langsung dan satu-satunya dari penahan penghasilan dalam perusahaan.

6. KONSEP-KONSEP NET INCOME
    6.1 Konsep net income pada investor
    Sesuai dengan entity konsep dengan pemegang saham maupun pemberi utang jangka panjang merupakan investor dari permanen capita. Dengan adanya perusahaan antara pemilikan dan pengendalian dalam perusahaan-perusahaan besar, perbedaan antara pemegang saham dan pemegang obligasi tidaklah sepenting pada masa lalu. Perbedaan utamanya sebetulnya hanya terletak pada hak didahulukan dalam pembagian income dan terhadap asset pada waktu liquiditas. Apabila kita meneliti hak didahulukan dalam pembagian income, sering dapat kekaburan antara pemegang obligasi dan pemegang preferred stock. Pemegang income bonds misalnya mempunyai jaminan lebih sedikit mengenai hak didahulukan dalam pembagian income dibandingkan dengan pemegang cumulative preffered stock. Juga pemegang convertible bonds bisa mempunyai hak atas laba yang ditahan melalui konfersi utang menjadi common stock.
    Dalam entity concept, income bagi para investor meliputi bunga utang, deviden bagi pemegang preferred dan common stock, maupun laba yang ditahan. Konsep income ini mempunyai beberapa keuntungan :
1)    Keputusan-keputusan mengenai sumber-sumber long-term-capital bersifat pembelanjaan dan bukan operasional.
2)    Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam struktur permodalan perusahaan, maka perbandingan antara perusahaan dapat dilakukan secara langsung dengan konsep income ini.
3)    Rate of return dari total investmen dari konsep ini menggambarkan efisiensi relatif dari pada invested capital secara lebih baik dari pada rate of return to stockholders.
    Dalam perhitungan net income pada investor ini, pajak penghasilan diperlakukan sebagai expense. Inilah perlakuan yang dianjurkan oleh APB dan kemudian dianut oleh FASB. Ini merupakan posisi yang realities karena pemerintah bukanlah merupakan beneficiary dari perusahaan dalam pengertian seperti para investor. Perusahaan memang menerima manfaat dari pemerintah, namun manfaat ini tidaklah proporsional dengan pajak yang dibayarkan. Bahkan menurut penelitian di Amerika Serikat, pajak penghasilan dapat dibebankan (“passes on”) seperti halnya biaya. Juga para investor maupun manajer kelihatannya mendasarkan kebanyakan keputusan mereka kepada income after tax.
    6.2 Konsep net income pada stockholder
        Pandangan yang paling tradisional dan yang paling diterima mengenai net income adalah bahwa net income merupakan return kepada pemilik perusahaan. Meskiun konsep ini berakar kuat pada proprietary approach, banyak pengarang menerapkanya kepada entity approach dan menganggap accounting profit bagi entity sebagai kewajiban terhadap pemilik-pemiliknya. Konsep net income yang diperuntukan bagi semua pemegang saham juga tersirat dalam APB Opinion No 9 dan APB Statement No 4. Study group on the objektiv of financial statements menekankan sifat prediktifnya accounting income, tetapi selanjutnya menyatakan bahwa kemampuan menghasilkan terwujud dari kemampuan perusahaan mencapai tujuan akhir yang beruypa pemberian maximum cash kepada para pemilik-pemiliknya.
    Konsep net income pada stockholders juga mempunyai pendukung ilmu ekonomi. Meskipun definisi laba ekonomi berbeda daripda accounting profit sebagai total return kepada entrepreneurs dalam peranan mereka sebagai manajer, investor, pengambil resiko dan penyewa. Meskipun cara pandangan ini mungkin tidak menguntukan, tetapi sudah merupakan kenyataan bahwa pemakaian laporan akuntasi biasanay mengartikan net income sebagai return to shareholders.
    6.3 Konsep net income pada pemegang saham
        Dalam ikhtisar-ikhtisar keuangan yang disajikan khusus bagi pemegang saham dan investor lainnya, net income yang tersedia untuk dibagikan kepada pemegang common stock biasanya dianggap sebagai angka yang terpenting dalam ikhtisar tersebut. Net income per share dan deviden per share untuk common stock dikutip secara luar dalam berita-berita keuangan, disamping haraga-haraga saham. Oleh karena itu ada dukungan yang kuat dari pertimbangan pragmatis ini terhadap konsep income ini.

7. KONSEP PERILAKU MANAJER TERHADAP INCOME
    Perilaku manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan kompensasi dengan laba sebagai pengukur kinerja. Pengendalian akan efektif apabila menejer mempunyai persepsi bahwa laba sebagai pengukur kinerja benar-benarlaba yang diakibatkan oleh tindakan atau upaya (action and efforts). Oleh karena itu dalam pengendalian menajemen terhadap berbagai tingkat laba dengan berbagai sebutan sebagai pengukur kinerja manajer.
    Pengendalian manajemen menuntut adanya kontrak-kontrak internal yang memerlukan berbagai tingkat laba akuntaswi sebagai unsure kesepakatan. Jadi secara pragmatic laba akuntansi memang digunakan oleh manajemen. Hal ini member indikasi bahwa laba akuntasi bermanfaat untuk kepentingan atau kontrak internal.

8. TUJUAN PELAPORAN NET INCOME
    Tujuan utama pelaporan net income adalah untuk memberikan informasi kepada mereka yang menaruh minat pada laporan keuangan. Tetapi kita harus memperinci tujuan-tujuan tertentu sebelum kita memperoleh pengertian tentang pelaporan income. Salah satu dari tujuan dasar mengasumsikan bahwa yang paling penting bagi semua pemakai laporan adalah keutuhan untuk membedakan invested capital dan income-perbedaan antara stock dan flows-sebagai bagian dari proses deskriptifnya akuntansi.
    Tujuan yang lebih khusus meliputi pemakaian income sebagai pengukuran efisiensi manajemen, pemakaian angka-angka historical income untuk membantu meramalkan masa depan perusahaan atau deviden diwaktu yang akan dating, dan pemakaian income sebagai keberhasilan dan pedoman mengenai keputusan-keputusan manajerial dimasa yang akan dating. Yang tidak akan dibahas adalah income sebagai dasar pengukuran pajak, penggunaan income sebagai cara untuk mengatur perusahaan dimana kepentingan umum terlibat, dan pemakaian angka-angka income oleh para ahli ekonomi untuk mengevaluasi allocation of resources.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar